ADF.LY

Senin, 05 April 2010

GARIS PEMBATAS RUANG DAN WAKTU ANAK KITA

Garis horizon akan selalu berubah tergantung posisi kita saat menatapnya, Bentang garis itu akan meluas ke segala arah seiring dengan bertambah tinggi posisi kita. Garis horison yang kita lihat adalah batasan kita. Kalau ngga mau terbatas selalu bergeraklah naik.

Tanpa sadar kita sering menetapkan garis horizon untuk hidup anak-anak kita. Membatasi gerak dan pikiran mereka. Menanamkan kekuatiran yang ngga rasional. Sikap ini dapat mengekang potensi anak-anak kita untuk Go beyond their horizon. Janganlah kita terlalu protektif atau perfeksionis, sehingga mengekang jiwa anak untuk mencari jalur pergerakannya. Karena jiwa-jiwa yang masih belia itu punya jalurnya sendiri. Mereka mungkin lebih kuat, tangguh, terampil dan kreatif dari yang kita bayangkan.

Pernah suatu hari teman meragukan kemampuan putranya yang ikut taekwondo bersama Netta anak sulung saya. Taekwondo akan bikin acara outing menginap lengkap dengan segala kegiatan yang pasti menuntut banyak energi. Namanya juga kegiatan bela diri. Teman saya ragu mendaftarkan putranya karena kuatir anaknya tidak akan mampu untuk survive di kegiatan semacam itu. Saya tanya apa anaknya punya penyakit. Tidak, tapi dia anak mama sekali. Makan aja kadang masih harus disuapi. Satu contoh kasih sayang ibu yang membatasi potensi berkembang anak.

Lain lagi saat anak kita baru mulai belajar berlari kencang, memanjat dan melompat. Alih-alih menyemangati anak untuk berlari lebih kencang, memanjat lebih tinggi dan melompat lebih jauh, orang tua lebih sering melarang, jangan nanti jatuh. Untuk anak penyuka tantangan larangan itu tak kan menghalangi. Bagaimana dengan anak yang lebih pasif, dia mungkin akan berhenti bergerak dan duduk tenang seperti mau orang tua. Hilanglah satu kemungkinan potensinya berkembang. Mana tau anak ini bakat jadi atlit.

Contoh lagi, saat batita (bawah tiga tahun) mau makan, ambil minum, bikin susu atau mandi sendiri. Bukannya mengajari bagaimana melakukan semua itu dengan benar dan rapi, orang tua sering kali mengambil alih rencana mereka, dan melakukan semua untuk anaknya. Dengan alasan takut berantakan atau nanti nggak habis atau kalo mandi sendiri ga bakal bersih. Akhirnya anak urung bisa sendiri.

Kalau berkegiatan, bergerak dengan bebas dan memenuhi kebutuhan sendiri saja dibatasi bagaimana anak mau mandiri. Mereka butuh mengetahui batas kemampuan diri. Sehingga kita dapat memotivasi mereka untuk dapat belajar melewatinya. Jangan sampai anak tidak tahu batasan dirinya karena tidak mandiri, terbiasa orang lain melakukan semua untuknya.

Jika kita ingin melahirkan generasi yang tangguh. Biasakan untuk memotivasi mereka selalu menguji batas kemampuan diri dan melewatinya. Berikan tantangan untuk menguji batasan mereka, beri sedikit push agar mereka dapat melewati batasan itu. Hingga akhirnya mereka terbiasa menghancurkan batasan-batasan itu sendiri. Jadilah mereka insan berkepribadian tangguh yang siap melangkah lebih jauh. Berlari lebih kencang. Dan melompat lebih tinggi. Bahkan terbang…

Sehingga tak ada lagi keterbatasan diri, mereka siap menghadapi tantangan apapun menuju sukses.

Mari kita biasakan menguji batasan kemampuan anak-anak sedini mungkin… Biarkan mereka berbuat lebih… Untuk dirinya… Dan orang-orang di sekitarnya… Jauhkan kekuatiran yang ngga rasional… Berikan latihan dan informasi secukupnya. Terakhir hindari melayani anak secara berlebihan… Suatu hari mereka akan berterima kasih untuk itu…

Sumber: Smart Parenting (Forum Komunikasi Ortu Cerdas) I >

Tidak ada komentar:

Posting Komentar